Merubah paradigma "miring" dari kampanye kebanyakan caleg di Indonesia khususnya menjelang pemilu yang ada di kebanyakan masyarakat kita sungguh suatu hal yang sangat berat. Paradigmanya adalah bahwa setiap caleg harus berani mengeluarkan uang banyak untuk bisa membeli suara konstituen atau setidaknya harus bisa membagi-bagi uang agar para konstituennya setia ataupun para anggota tim suksesnya selalu mendapat "uang" recehan agar mereka bisa selalu mendukung sang caleg.
![]() |
Erwin, Caleg PDIP No.2 |
Sungguh lingkaran setan yang sangat menipu dan memberatkan siapapun calegnya yang pada akhirnya malah tidak memberikan kemaslahatan pada masyarakat, dan justru menumbuhkan sifat korup di semua pihak. Anggota legislatif yang fokus mengumpulkan uang untuk membayar hutang modal kampanyenya dan sekelompok kecil masyarakat pendukung sang anggota dewan yang hanya dapat uang recehan namun tak bisa mendapatkan hak sosialnya di kemudian hari bila sang caleg berhasil terpilih. Itupun jika terpilih, apalagi jikasi caleg tidak terpilih, bisa-bisa jadi stress berat atau gila karena gagal terpilih sementara ia sudah kadung keluar banyak uang.
Merubah paradigma tersebut menjadi kampanye yang sehat dan bagaimana seorang caleg yang sejatinya memang harus punya modal keuangan yang tidak sedikit, tapi bisa mendapatkan dukungan bukan saja materi melainkan juga moril dari konstituennya yang pada akhirnya, akan dibayarkan sang caleg dalam bentuk kebijakan legislasi yang menguntungkan kepentingan masyarakat di wilayahnya. Sungguh suatu hal yang sangat sulit meskipun tidak mustahil untuk dijalankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar